Bukan Kasihan, Tapi Kesempatan: Menyingkap Potensi Luar Biasa di Balik Disabilitas
Tanjungpinang, (20/01/2026) - Dunia seringkali memandang penyandang disabilitas dengan rasa iba atau kasihan. Namun, bagi Ishak Iskandar, S.Pd., seorang praktisi pendidikan luar biasa dengan pengalaman lebih dari 35 tahun, pandangan tersebut harus diubah menjadi pemberian kesempatan. Melalui program "Sudut Mata" di Pandawa Radio, Ishak berbagi kisah dedikasi dan bukti nyata bahwa keterbatasan fisik bukanlah penghalang untuk meraih prestasi mendunia.
Perjalanan Dedikasi: Dari Relawan Hingga Kepala Sekolah
Ishak Iskandar memulai kiprahnya di dunia pendidikan luar biasa sejak tahun 1990 di Pekanbaru sebelum akhirnya mengabdi di Tanjung Pinang pada tahun 2000. Perjalanannya tidaklah mudah; ia pernah mengajar sebagai guru honorer sukarela tanpa gaji selama enam bulan di Bangkinang demi mencurahkan ilmunya. Ketulusannya membawa hikmah, di mana ia kemudian dipercaya menjadi terapis wicara dan membantu banyak anak dengan hambatan pendengaran untuk berkomunikasi lebih baik.
Redefinisi Disabilitas: Memperhalus Bahasa, Menghargai Martabat
Dalam dunia pendidikan, istilah "cacat" telah lama ditinggalkan dan diganti dengan "disabilitas" atau "hambatan" untuk menghargai harkat martabat manusia. Ishak menjelaskan bahwa disabilitas mencakup berbagai kategori, seperti:
-
Hambatan Penglihatan (Tunanetra)
-
Hambatan Pendengaran dan Bicara (Tunarungu/Tuna Wicara)
-
Hambatan Intelektual (Tunagrahita)
-
Hambatan Fisik (Tunadaksa)
-
Hambatan Sosial Emosional (Autis)
Menurutnya, asesmen yang tepat sangat penting untuk meminimalkan kelemahan dan menggali potensi tersembunyi yang dimiliki setiap anak.
Prestasi Melampaui Batas: Dari Tanjung Pinang ke Chicago
Salah satu poin penting yang ditegaskan Ishak adalah bahwa anak-anak disabilitas memiliki fokus dan daya ingat yang luar biasa. Sebagai contoh, anak tunarungu seringkali lebih konsentrasi dalam bekerja karena tidak terganggu oleh suara di sekitarnya.
Bukti nyata dari potensi ini terlihat dari berbagai prestasi yang diraih siswa SLB di Tanjung Pinang:
-
Internasional: Seorang siswa tunarungu berhasil meraih juara satu tingkat nasional dalam bidang tata rias dan mewakili Indonesia hingga ke Chicago, Amerika Serikat pada tahun 2010.
-
Seni: Siswa tunarungu mampu membawakan tari persembahan dengan sempurna hanya melalui hitungan dalam hati dan isyarat visual dari pelatih.
-
Olahraga: Prestasi di ajang O2SN dan Peppenas (Pekan Paralimpik Pelajar Nasional) mencakup cabang atletik (tolak peluru), tenis meja, hingga bulu tangkis.
Masa Depan yang Inklusif: Akademik dan Kemandirian
Pendidikan luar biasa tidak hanya fokus pada keterampilan vokasional (pertukangan, tata rias, IT), tetapi juga akademik. Banyak alumni SLB Negeri 1 Tanjung Pinang yang berhasil menembus perguruan tinggi ternama seperti IKJ Jakarta (lulus dengan predikat cum laude), Universitas Lancang Kuning, UMRAH, dan STAIN.
Pesan Penutup: Tugas Kita Bersama
Di akhir perbincangan, Ishak Iskandar mengajak seluruh masyarakat dan orang tua untuk tidak menutup mata. "Tidak ada Tuhan menciptakan sesuatu tanpa manfaat. Di balik kekurangan, pasti ada kelebihan," tegasnya. Ia berharap adanya kerja sama yang erat antara sekolah, orang tua, dan masyarakat untuk memberikan dorongan moril agar anak-anak istimewa ini bisa terus berkarya dan mandiri
Sumber : Pandawa Radio - https://youtu.be/wGmzTBUHECI?si=fjbOKr0A70L079uR
- Hits: 25