“Sudan Menangis: Menguak Tragedi Kemanusiaan yang Ditutup Dunia
Tanjungpinang, (02/12/2025) — Pandawa Radio 103.9 FM kembali hadir menemani Mitra Pandawa setiap hari Selasa pagi dalam program inspiratif Sudut Mata: Secuil Ulasan Kehidupan Tokoh, yang dipandu oleh Mastur Taher. Program ini selalu mengajak kita menelusuri kisah inspiratif. Pada kesempatan kali ini, diskusi eksklusif Pandawa Radio 103.9 FM menguak konflik di Sudan yang menelan jutaan korban jiwa dan pengungsi, dipicu ambisi internal dan campur tangan asing yang mengincar kekayaan alam, yang menghadirkan sosok istimewa, seorang Sekkretaris Jendral Ikatan Alumni Sudan di Indonesia yaitu Dr. Suparman Manjan, Lc., M.Ed.
Perbincangan dalam program "Sudut Mata" di Pandawa Radio 103.9 FM baru-baru ini mengangkat sebuah tema yang mendesak: Meneroka Tragedi Kemanusiaan di Negeri Sudan. Menghadirkan narasumber utama, Dr. Suparman Manjan, Lc., M.Ed., Sekjen Ikatan Alumni Sudan di Indonesia, diskusi ini berusaha menembus tirai isu global untuk menyoroti penderitaan rakyat Sudan yang terabaikan.
Kenangan Tulus di Tanah Sudan
Dr. Suparman Manjan, yang telah menghabiskan 15 tahun di Sudan untuk menyelesaikan studi S1 hingga S3, berbagi kenangan indah tentang negeri yang kini tercabik perang. Sebelum konflik meletus, Sudan dikenalnya sebagai negara dengan masyarakat yang luar biasa ramah, sopan, baik, tulus, dan suka berbagi.
Namun, citra kedamaian itu kini hancur lebur sejak pecahnya konflik antara militer resmi pemerintah yang dipimpin Jenderal Burhan dengan Pasukan Dukungan Cepat (RSF) pimpinan Jenderal Hemetti.
Konflik Berdarah di Jantung Pendidikan
Akar konflik dimulai setelah jatuhnya Presiden Umar al-Bashir pada tahun 2019. Konflik memanas ketika terjadi perbedaan pendapat tajam mengenai integrasi pasukan milisi Hemetti ke dalam militer nasional. Hemetti, yang disebut memiliki "kerakusan dalam hal jabatan", menolak, memicu perang terbuka.
Dampak dari perang ini sungguh memilukan:
- Jutaan Pengungsi: Konflik brutal ini telah menghasilkan antara 13 hingga 14 juta pengungsi, jumlah yang tersebar hingga ke perbatasan Mesir dan Ethiopia.
- Korban Jiwa Massal: Sebanyak 150.000 hingga ratusan ribu orang dilaporkan tewas. Yang paling mengejutkan, korban pembunuhan massal—terutama anak-anak dan wanita—dilakukan secara langsung dan brutal, bahkan tanpa rasa kemanusiaan.
- Infrastruktur Hancur: Hampir seluruh universitas di ibu kota Khartoum luluh lantak dan beberapa dilaporkan dijadikan sebagai tempat kuburan massal.
Intervensi Asing dan Keinginan Memecah Sudan
Dr. Suparman Manjan menjelaskan bahwa tragedi kemanusiaan di Sudan tidak lepas dari campur tangan kekuatan asing yang mengincar kekayaan alamnya. Ia menyebutkan bahwa pembiayaan milisi Hemetti tidak berasal dari anggaran negara, melainkan dari pengelolaan tambang emas besar yang mereka kuasai, melalui kerja sama dengan salah satu negara Arab.
Narasumber secara spesifik menuding Uni Emirat Arab (UEA) sebagai negara yang dituduh terlibat dalam mendukung pemberontakan, bahkan mengirimkan persenjataan dan komandan perang ke wilayah konflik, Darfur.
Wilayah Darfur yang kaya akan emas dan uranium terbesar di dunia, menjadi target utama. Kekhawatiran terbesar adalah intervensi asing ini dapat mengarah pada perpecahan Sudan menjadi beberapa negara kecil, mengulang nasib Sudan Selatan, demi memudahkan eksploitasi sumber daya alam.
Seruan Solidaritas Kemanusiaan
Mengingat kondisi ini, Ikatan Alumni Sudan di Indonesia menyerukan agar masyarakat global, khususnya Indonesia, memfokuskan perhatian pada isu kemanusiaan, seperti: membangun kembali universitas (I'adatul Bina il Jami'at), serta menyediakan bantuan makanan, minuman, dan layanan kesehatan.
Dr. Suparman Manjan juga mengingatkan tentang ikatan sejarah kuat antara Sudan dan Indonesia—di mana pendiri organisasi Al-Irsyad, Imam Assurkati, merupakan tokoh asal Sudan. Sudan juga dikenal sebagai negara yang banyak memberikan beasiswa kepada mahasiswa Indonesia.
Mengakhiri perbincangan, ia menguatkan seruan dengan pesan agama: "Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan selalu membantu kita selama kita membantu saudara-saudara kita sesama muslim,". Tragedi Sudan adalah panggilan untuk berempati dan bersolidaritas, agar penderitaan jutaan jiwa di sana tidak terus-menerus ditutup dunia.
Sumber Video: https://youtu.be/4R6at2EL1WA
- Hits: 58