Tanjungpinang, Kepulauan Riau
Mon - Sun: 6:00 - 23:00

Melawan Krisis Moral: Begini Cara Pesantren Membentuk Generasi Muda Berakhlak

Melawan Krisis Moral: Begini Cara Pesantren Membentuk Generasi Muda Berakhlak

Pesantren, Benteng Akhlak Generasi Muda di Era Digital. Setiap Selasa pagi, udara Tanjungpinang seakan hangat oleh siaran inspiratif dari 103,9 FM Pandawa Radio. Program Sudut Mata, yang dipandu oleh Mastur Tahir, selalu menghadirkan tokoh-tokoh lokal dengan kisah perjuangan dan gagasan yang memberi makna. Pada edisi kali ini, tema yang diangkat adalah “Pesantren Sarana Perbaikan Akhlak Generasi Muda”, dengan narasumber Bapak Zulkifli, S.Pd., Kepala Pondok Pesantren Al-Ihsan Bintan.

Dari Anambas ke Bintan: Jejak Perjalanan Zulkifli

Zulkifli lahir dan menempuh pendidikan dasar hingga menengah di Anambas, Kepulauan Riau. Selepas itu, ia melanjutkan kuliah di Universitas Riau, jurusan Pendidikan Biologi. Tahun 1998, ia kembali ke Tanjungpinang dan terlibat dalam perjuangan pembentukan Provinsi Kepulauan Riau. Dunia politik pun sempat digelutinya: tiga periode ia menjadi anggota DPRD Bintan dari Partai Demokrat, sejak 2009 hingga 2024.

Namun, di balik kesibukan politik, tersimpan panggilan batin: mendirikan pesantren. Berawal dari pengalaman pribadi saat mencarikan pondok untuk anaknya, ia menyadari masih minimnya lembaga pendidikan yang nyaman dan representatif. Dari situlah lahir ide membangun Pondok Pesantren Al-Ihsan Bintan di Desa Toapaya, yang berdiri sejak 2019.

Pesantren: Bukan Sekadar Sekolah

Zulkifli menekankan bahwa pesantren bukan hanya tempat belajar ilmu agama, tetapi juga sarana membentuk karakter. “Di sekolah umum, pendidikan agama hanya dua jam per minggu. Di pesantren, porsi agama bisa mencapai lebih dari 60 persen kurikulum, dengan tiga pilar utama: penguasaan Al-Qur’an, bahasa Arab, dan akhlak mulia,” jelasnya.

Kehidupan santri diatur dengan disiplin tinggi: bangun sejak subuh, salat berjamaah, mengaji, hingga belajar hingga malam hari. Semua aktivitas diarahkan agar santri terbiasa hidup tertib, bertanggung jawab, dan mandiri. Bahkan, kebiasaan kecil seperti memberi salam, menjaga kebersihan, hingga melaksanakan piket menjadi bagian dari pendidikan karakter.

“Pesantren itu dunia putih. Satu noda kecil saja akan cepat terlihat. Karena itu kami berusaha keras menjaga agar anak-anak tumbuh dalam lingkungan yang bersih, disiplin, dan penuh nilai akhlak,” ujar Zulkifli.

Menjawab Tantangan Zaman

Era digital membawa godaan besar bagi generasi muda. Informasi tanpa batas ada dalam genggaman melalui ponsel pintar. Namun, di pesantren, santri tidak diperkenankan membawa gawai. Menurut Zulkifli, ini justru keunggulan pesantren: melindungi anak dari paparan negatif sekaligus mendidik mereka fokus pada ilmu dan pembentukan diri.

Meski demikian, pesantren tidak menutup diri dari teknologi. Al-Ihsan Bintan juga memiliki laboratorium komputer agar santri tetap melek digital. “Teknologi boleh dikuasai, tapi akhlak harus lebih dulu dibangun. Kalau akhlak kuat, ilmu apa pun bisa membawa manfaat,” tegasnya.

Fasilitas dan Kegiatan Santri

Pesantren ini kini menampung lebih dari 115 santri putra. Fasilitasnya terbilang lengkap: lapangan olahraga, tenis meja, futsal, bahkan kolam renang dan lapangan panahan. Dua olahraga sunnah—berenang dan memanah—bahkan diwajibkan bagi santri.

Selain itu, kegiatan kreatif seperti seni, puisi, sandiwara, hingga tausiyah memberi ruang bagi santri menyalurkan bakat. Menurut Zulkifli, pesantren tidak mengekang kreativitas, justru mendorong anak menemukan potensinya masing-masing.

Pesantren dan Peran Orang Tua

Namun, pesantren bukan satu-satunya penentu. Zulkifli menekankan pentingnya sinergi dengan orang tua. “Doa orang tua itu sangat mustajab. Kalau orang tua tidak peduli dan hanya menyerahkan penuh pada pesantren, hasilnya bisa kurang maksimal,” pesannya.

Ia juga menanggapi keluhan biaya pesantren. Menurutnya, pendidikan di pondok sebenarnya tidak mahal jika dibandingkan dengan pengeluaran sehari-hari. “Kalau orang tua bisa menghabiskan ratusan ribu untuk rokok sebulan, mestinya bisa juga menyisihkan untuk masa depan anak. Itu bukan sekadar investasi dunia, tapi juga akhirat,” tegasnya.

Menjawab Kritik

Pertanyaan kritis pun muncul dari pendengar, misalnya soal tudingan bahwa pesantren mengekang kebebasan berpikir. Zulkifli menolak anggapan itu. “Kami memberi ruang kreativitas. Tapi hidup perlu disiplin. Tanpa disiplin, tidak ada kesuksesan,” jawabnya.

Ada pula pertanyaan apakah pendidikan umum bisa melahirkan manusia berakhlak lebih baik daripada pesantren. Zulkifli menjawab bijak: semua lembaga pendidikan bisa berperan, tetapi pesantren punya kelebihan karena menanamkan akhlak sejak keseharian, dari hal kecil seperti mengembalikan uang kembalian yang salah hingga membentuk integritas yang menolak korupsi.

Harapan untuk Generasi Muda

Menutup perbincangan, Zulkifli menitipkan pesan agar orang tua tidak ragu memasukkan anak ke pesantren. “Anak yang saleh adalah investasi terbesar kita. Doanya akan terus mengalir meski kita sudah tiada. Dunia ini hanya sementara, tapi akhirat selama-lamanya. Kalau ingin anak kita menjadi cahaya di dunia dan akhirat, titipkanlah mereka di pesantren,” pungkasnya.

  • Hits: 89